Danau Kedamaian (bagian 2)
tergopoh-gopoh seorang anak laki-laki menuju danau. Ditangan kirinya sudah tergenggam plastik bening yang isinya berwarna. Beberapa meter dari danau berdiri tegak pohon yang rindang. Daunnya lebat dan terlihat sangat kokoh. Pohon yang indah dengan cabang dan ranting yang mudah saja dipanjat anak seusia 10 tahun. Anak laki-laki itu berlari kencang dari jalan menuju pohon itu. nafasnya tersengal-sengal karena barangkali terlalu cepat ia berlari, dan bisa juga terlalu jauh. Tiba-tiba ia mengerem mendadak, dan akhirnya terjatuh. Bukan karena tidak hati-hati, toh ia lari ngebut begitu sudah seperti biasanya. Hanya saja, ia kaget ada sesosok perempuan seusianya duduk di bawah pohon rindang itu. Menundukkan kepalanya di atas lutut yang ditangkupkan ke dada. Ah... terdengar suara tangis yang sesenggukan. Siapa dia? Tak pernah ada orang disini, di jam segini. Anak laki-laki itu berdiri, kemudian memandangi anak perempuan itu dari balik punggungnya. Tunggu sampai agak reda tangisnya pikir anak laki-laki itu.
Rara mengusapkan air matanya. Ia hendak bangkit dan pulang. Namun ketika menoleh ke belakang, ia terkejut ketika ditemukannya seorang anak laki-laki yang sedang terpaku memandanginya. Dahinya berkerut. Tangannya berusaha menmbersihkan air mata yang masih mengalir. Malu.
"Hey, namaku Dani. Kamu siapa?", Dani mengulurkan tangan kanannya ke Rara. Ia juga tersenyum.
Rara menegakkan mukanya ke Dani. Ia ragu untuk menerima uluran tangan Dani. Namun akhirnya, perlahan ia mengajukan tangannya. Menyambut uluran tangan Dani. Dan terdengar pelan dari mulutnya, "Rara".
"sepertinya aku baru pertama kali liat kamu disini. Aku sudah sering kesini. Ku beri nama danau ini danau kedamaian", tanpa diminta, Dani sudah bicara. Ia meletakkan genggaman plastiknya di tanah. Ia mengambil satu gulung benang nylon dan korek dari plastik. Rara hanya melihatinya. Matanya mengikuti gerakan tubuh Dani.
"Duduklah disini, bantu aku memasang kertas-kertas ini ke benang ya", tangan Dani menepuk-nepuk tanah di sampingnya. Meminta Rara duduk di dekatnya. Rara menuruti.
"ini apa?", Rara akhirnya bertanya pada Dani. Sungguh ia penasaran. Mengapa Dani membawa banyak kertas origami yang dibentuk bunga, kapal, perahu, burung, dan bentuk lainnya yang lucu-lucu.
"oh, ini adalah harapan-harapan aku di masa depan. Aku menuliskannya disini. Dan kubuat bentuknya. Nanti akan ku pasang di pohon ini dengan benang nylon ini", Dani tersenyum menjelaskan pada Rara.
"oh, apa kamu mau nulis harapan juga? tapi kertas yang kosong dan belum ku bentuk tinggal sisa satu", Dani memberikan kertas origami berwarna pink dan pena ke Rara. Rara menuliskan satu harapannya, dan membentuknya menjadi burung.



Komentar
Posting Komentar