Danau Kedamaian (Bagian 1)

Hari ini sungguh bukan hari yang tepat untuk fokus pada pelajaran. Selain panas, rasanya suasana hatilah yang membuat semuanya menghilang. Rara sudah nggak nyaman lagi ada di ruang kelasnya. Apalagi mata pelajaran siang ini adalah sejarah. Ouh,,, sungguh menyebalkan. Bukannya nggak suka dengan muatan sejarah yang diajarkan, tapi... Pak Narto lah yang membuatnya ingin segera mengakhiri setiap mata pelajaran sejarah. Ngantuk. Ya, Pak Narto selalu mengajar dengan metode ceramah. Nggak perduli yang dilakukan siswanya di kelas, ia tetap saja bercerita. Membosankan. "Pak, izin ke toilet", Rara mengangkat tangannya setinggi mungkin. Hah!! ini hanya sebuah alasan saja untuk menghindar dari Pak Narto. Rara cuma mau keluar kelas, dan sejenak menghirup udara segar. "ya, silahkan", jawab pak Narto singkat. Tentu saja pak Narto tak pernah curiga setiap Rara izin ke toilet. Karena Pak Narto satu tahun lagi pensiun, maklumlah sudah tua. Nggak pernah ketat mengawasi siswanya lagi. Ia melanjutkan cerita sejarahnya. Dan ketika rara menengok ke belakang saat akan keluar pintu, wow... teman-temannya asyik dengan dunianya sendiri. Terserahlah. Rara duduk di gazebo sekolahnya. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut panjangnya yang terurai. Memang pas banget kalau siang-siang begini duduk di bawah rindangnya pohon. Rara meneguk botol mineral yang ia beli di kantin sambil menuju ke gazebo. Segarnya. Rara mengeluarkan hp jadulnya dari saku rok sekolah. Tak ada pesan baru untuknya. Ya, ini adalah tahun kelima rara menanti seseorang menghubunginya. Selama itu tak pernah ada kabar dari seseorang itu. Rara pun tak tahu harus kemana menghubungi orang itu. Tak ada kontak, tak ada jejak yang bisa di lacak. Semuanya hilang begitu saja. Ia hanya menanti. "Hey, Rara!! Sungguh terlalu kamu ya. Izin ke toilet nggak taunya malah ngelamun di sini. Huuu...", icha menghampiri rara sambil tersenyum dan memegang bahu rara. "kenapa kamu?", tambah icha yang ternyata juga kabur dari kelas Pak Narto akibat ngantuk berat. "cha, hari ini sepertinya aku nggak bisa bareng kamu. aku mau mampir dulu ke suatu tempat", Rara tak menjawab pertanyaan icha. Rara sudah tau juga kalau icha pasti kabur dari kelas. Karena memang mereka berdualah yang sering bolos kelas pak Narto. "haddeh, anak ini, benar-benar. Mau kemana sih kamu? ke danau lagi? apanya yang bagus coba danau itu. Cuma banyak ilalangnya doang", icha menjawab Rara dengan sedikit mendesah. Ia sudah pernah diajak Rara ke tempat itu. Ia juga sudah tau kalau Rara berkunjung ke danau, pasti hatinya sedang gundah. Icha tahu, karena ia sahabat dekat Rara. Rara hanya terdiam. Tak ada sepatah kata yang ingin ia ucapkan saat ini. Dan angin masih berhembus pelan. Segarnyaaa.... ***

Komentar